Baitul Maal

Kami akrab dengan beberapa pesantren. Kami akrab dengan berbagai panti asuhan. Kami akrab dengan para da’i, ustadz/ustadzah, para kyai, ulama. Kami mengenal sangat banyak orang yang sangat baik, bahkan mulia, di sekitar kami. Kami sangat mengenal betapa baik sifat mereka, betapa mulia akhlaq mereka, dan betapa mulia perjuangan mereka. Mereka berjuang untuk kebaikan. Ada yang mengurus anak-anak terlantar (misal : Pondok Pesantren Al-Hikmah, Karangmojo, Gunungkidul), ada yang berusaha memberi solusi bagi orang-orang yang memiliki masalah berat (misal : terlilit hutang, stress, dsb), ada yang membina kaum difabel (misal : Pondok Pesantren Ainul Yakin), bahkan ada yang fokus mengurusi orang-orang [maaf] gila !

Secara individu, ada yang sepasang suami-istri sepenuhnya mensedekahkan hidupnya untuk mengelola pesantren (pondok tahfizh, PAUD, TK), ada yang secara sukarela rutin membina/berdakwah, ada yang dalam himpitan waktu dan finansial secara sukarela mengelola suatu forum majelis ta’lim secara rutin, ada yang mengajar dengan tulus dan berkualitas, dengan gaji yang sangat minim, dan masih sangat banyak lagi yang sulit/tak habis bisa disebutkan semuanya.

Sungguh mulia pekerjaan mereka … sungguh tulus pengabdian mereka … sungguh berat pekerjaan mereka …

Namun … kami sangat banyak melihat … kesulitan/beratnya hidup yang mereka jalani. Ini dari sudut pandang kami, bukan mereka yang mengeluh. Apalagi dalam situasi dan kondisi hidup sekarang yang apa-apa mahal. Sungguh tak terbayangkan bagaimana mereka mencukupi kebutuhan sendiri (dan keluarganya). Ibarat lilin yang menerangi, namun leleh habis termakan api, jangan sampai ini terjadi. Dan kami ulang : ini pengamatan kami – bukan keluhan dari mereka, dan menurut kacamata kami.

Banyak di antara mereka yang terlilit hutang, hidup minimalis, rumah kecil sangat sederhana, bahkan kontrak, kendaraan ala kadarnya, bahkan bermasalah apalagi kenyamanan.

Namun sebagai mu’min, mereka berusaha tidak mengeluh apalagi meminta.

Namun juga sebagai muslim, kita yang harus peka terhadap kondisi mereka.

Perintah Allah dalam Al-Qur’an :

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui. [ Q. S. 2. Al – Baqarah : 273 ]

Namun kami merasa, belum banyak (atau paling tidak : jauh kurang dari mencukupi) pihak yang memperhatikan hal ini (memberi pertolongan kepada yang tidak meminta).

Kami juga mengamati bahwa terkadang dana yang terkumpul di lembaga-lembaga penggalangan dana (yayasan, lazis, baitul maal, kotak infaq, dll) tidak banyak tersalurkan untuk ini, bahkan terkadang “sulit” bila diminta untuk ini. Terkadang terbentur administrasi/birokrasi. Banyak yang sama sekali tidak berani sedikitpun berbeda/melanggar/menyimpang dari aturan/tata tertib baku dari lembaga tersebut (bukan aturan syar’i lho), sangat “tidak luwes”/tidak fleksibel, terkadang tanpa memandang duduk permasalahannya, padahal bila sedikit berani, dan/atau mau berfikir jernih dan berusaha sungguh-sungguh dengan ikhlash/tulus, sedikit “melanggar/menerjang” aturan baku, sebenarnya secara esensi/prinsip tidak melanggar, bahkan malah lebih sesuai dengan hakekat/prinsip dasar lembaga tersebut, dan bila berani dilakukan, bisa malah menjadi masukan/revisi perbaikan dari sistem/peraturan yang ada.

Dengan berbagai pertimbangan dan latar belakang di atas, maka kami berkeinginan untuk suatu saat mendirikan sebuah BAITUL MAAL. Baitul Maal yang “seperti yang kami inginkan”. Baitul Maal yang luwes, fleksibel, pendek birokrasinya. Baitul Maal yang bisa disalurkan “semau kita”. Dengan sepenuhnya memenuhi/tidak melanggar aturan syar’i. Kami ingin Baitul Maal yang menggalang dana yang bisa disalurkan spontan, bila memang urgent.

Salah satu fokus kami dalam penyaluran dana nanti adalah : kesejahteraan para mubaligh, da’i, ustadz/ustadzah, aktivis dakwah, sukarelawan, dan para pejuang lain di jalan kebenaran. Kami tidak ingin ada di antara mereka yang terlilit hutang. Kami tidak ingin ada di antara mereka yang tidak bisa mensekolahkan anak-anak mereka sesuai keinginan. Kami tidak ingin ada di antara mereka yang tidak bisa berobat karena masalah biaya. Kami ingin memuliakan mereka. Kami ingin mereka hidup mulia di dunia (maupun di akherat). Kami ingin mereka bisa berjuang dengan nyaman. Kami ingin mereka bisa berjuang dengan tenang, tanpa sambil dihantui kekhawatiran untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga.

Kami belum tentu mampu berjuang seperti mereka.
Kami belum tentu mampu mengajar Al-Qur’an sebagus mereka.
Kami belum tentu mampu mendidik sebaik mereka.
Kami belum tentu mampu membina sesabar mereka.
Kami belum tentu mampu bersusah payah seberat mereka.
Kami belum tentu mampu sabar mengadapi ujian seberat mereka.

Barangkali hanya ini, salah satu usaha yang bisa kami lakukan.
Barangkali kami hanya bisa mensupport perjuangan mereka.

Cita-cita ini kami sampaikan di sini sejak dini,

  • Apabila di antara para pembaca ada yang setuju dengan ide ini, mari kita dukung, mari berkontribusi, mari bersinergi saling menguatkan, mari bersama kita persiapkan sejak dini.
  • Sebagai sosialisasi awal, agar bila ada di antara pembaca yang kelak berniat menjadi donatur, bisa bersiap-siap sejak dini, bisa mulai berkomunikasi dengan kami.
  • Agar bisa di-share/dibagikan kepada yang sekiranya menganggap ini sebagai ide yang baik, untuk bisa mendukung, mendoakan, bahkan ikut berkontribusi.

… وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ …

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran …” [Q. S. 5. Al-Maa’idah : 2]

Mohon doa agar cita-cita ini bisa terealisasi dan berjalan dengan baik sepenuhnya dalam ridho, naungan, dan pertolongan Allah SWT, aamiin.

Untuk komunikasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di contact yang ada di bagian ” MY BIODATA ” dari website ini.

Terimakasih atas waktu dan perhatiannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

874total visits,3visits today